Advertisement
Nusa Tenggara Timur - Memasuki hari kedua, penanganan gempa Flores kini dilakukan secara terpadu dengan mengerahkan kekuatan Polda NTT, Mabes Polri, TNI, Pemerintah Daerah, BNPB, Basarnas serta seluruh unsur terkait lainnya.
Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) mengambil langkah cepat dan terpadu guna mempercepat penanganan bencana.
Sebagaimana hasil yang disepakati dalam Rapat Koordinasi yng dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) dan dihadiri sejumlah menteri serta pimpinan lembaga terkait di Labuan Bajo pada Minggu (15/8).
Salah satunya adalah pembentukan Posko Utama di Labuan Bajo yang akan dikendalikan oleh Kepala BNPB.
Usai rakor, rombongan dibagi ke sejumlah wilayah terdampak.
Kapolda NTT, Irjen Pol. Rudi Darmoko mengatakan, dirinya turun langsung ke Kabupaten Ende untuk melihat kondisi korban bencana, kondisi bangunan yang rusak serta lokasi pengungsian.
"Bersama Forkopimda NTT, Menteri PUPR dan Dirjen PUPR, saya turun langsung ke lokasi untuk melihat langsung kondisi masyarakat yang menjadi korban bencana," ujar Kapolda NTT saat menggelar konferensi pers di Mapolda NTT, Minggu (16/8/2026) malam.
Tiga wilayah yang sebelumnya dikabarkan sebagai wilayah terisolir akibat dampak gempa dan longsor, berhasil di akses oleh jajaran Polri.
Seperti, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, wilayah Reo, Kabupaten Manggarai dan Desa Dimpong, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai.
"Di lokasi tersebut, personel menemukan kondisi masyarakat yang membutuhkan bantuan segera. Personil menyalurkan makanan, minuman dan obat-obatan," ujar dia.
Bahkan, di Kecamatan Lamba Leda Utara, personil juga melakukan evakuasi terhadap seorang ibu hamil yang mengalami pendarahan akibat persalinan prematur.
“Alhamdulillah bisa dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit. Alhamdulillah bisa diselamatkan,” lanjutnya.
Kemudian, wilayah Reo, Kapolres Manggarai bersama personel berhasil membuka akses menuju lokasi, menyalurkan bantuan dan mendirikan posko serta tenda tanggap darurat bagi masyarakat terdampak.
Adapun informasi mengenai warga di daerah terisolir desa Dimpong, diterima melalui media sosial.
Polda NTT kemudian merespons cepat dengan mengirimkan personel Brimob ke lokasi.
“Alhamdulillah bisa mengevakuasi masyarakat yang terisolir di sana dan belum mendapat bantuan. Alhamdulillah sudah bisa dievakuasi oleh Brimob,” jelas Kapolda
Selain itu, untuk memperkuat operasi kemanusiaan di Flores, Kapolri memberikan dukungan personel dan peralatan kepada Polda NTT.
Sebanyak 100 personel Bantuan Kendali Operasi (BKO) dari Brimob dengan kemampuan SAR dan sejumlah tim khusus, yakni 14 personel Tim DVI (Disaster Victim Identification) dari Pusdokkes Polri.
Dukungan lainnya berupa 10 ekor anjing K9 berkemampuan SAR beserta 21 personel pawang dan tim pendukung.
"Anjing pelacak tersebut dipersiapkan untuk membantu pencarian korban di bawah reruntuhan bangunan yang berisiko jika dilakukan pencarian secara manual," terangnya.
Tidak sampai disitu, untuk mendukung operasi cepat penanganan bencana, Mabes Polri juga mengirimkan sembilan personel Tim Humas serta tiga personel Tim Logistik, tim kesehatan dan tim trauma healing yang akan berkolaborasi dengan tim trauma healing Polda NTT untuk anak-anak korban gempa.
Polda NTT sendiri memiliki konselor dan terapis yang mempunyai kemampuan menggunakan metode U-SEFT (Ultimate The Source Body, Mind, Soul Emotional Freedom Technique).
Menurut Kapolda, metode tersebut telah diterapkan di sejumlah Polres, termasuk kepada anak-anak korban gempa di Kabupaten Ende.
“Tim terapis Polres Ende juga sudah mengaplikasikannya kepada anak-anak yang jadi korban bencana, karena mereka benar-benar masih trauma,” ungkapnya.
Untuk mempercepat pergerakan, Mabes Polri juga memberikan dukungan transportasi berupa satu unit pesawat CASA dari Korpolairud Baharkam Polri.
Tidak ketinggalan pula bantuan logistik berupa makanan cepat saji, minuman, tenda, velbed dan obat-obatan yang selanjutnya akan didistribusikan kepada masyarakat terdampak di Pulau Flores.
Selain wilayah daratan yang sulit ditembus, Polri juga memberikan perhatian kepada masyarakat di wilayah kepulauan.
Melalui Ditpolairud Polda NTT, bantuan makanan dan minuman telah disalurkan kepada masyarakat di Pulau Palue.
"Seluruh laporan mengenai masyarakat yang membutuhkan bantuan akan ditindaklanjuti, termasuk informasi yang diterima melalui media sosial. Jadi mendapat laporan medsos kemudian ditanggapi, kita kemudian langsung mengirim anggota,” tuturnya.
Berdasarkan data yang dihimpun pada, Minggu (16/8) hingga pukul 18.00 WITA, Polda NTT mencatat 55 orang meninggal dunia, 67 orang mengalami luka berat dan 123 orang luka ringan.
Sementara jumlah pengungsi mencapai 7.670 orang yang tersebar di 38 titik pengungsian pada tujuh kabupaten.
"Jumlah korban dan kerusakan tersebut masih dalam proses verifikasi di lapangan dan akan terus diperbarui oleh pemerintah," jelasnya..
Di tengah banyaknya warga yang mengungsi, Polda NTT juga mengantisipasi potensi gangguan keamanan di permukiman yang ditinggalkan.
Seluruh jajaran Polres diperintahkan meningkatkan patroli di kawasan permukiman kosong untuk memastikan rumah dan aset masyarakat tetap aman selama masa tanggap darurat.
Patroli tersebut sekaligus bertujuan mencegah terjadinya tindak kriminal yang dapat memanfaatkan situasi bencana.
Salah satu kendala dalam penanganan bencana,
Kapolda mengungkapkan, gangguan jaringan komunikasi dan listrik, khususnya di sejumlah wilayah seperti Nagekeo.
"Untuk mengatasi kendala Gangguan Komunikasi tersebut, Mabes Polri mengirimkan 10 unit Starlink yang didatangkan melalui penerbangan ke Labuan Bajo.
Perangkat tersebut akan digunakan untuk mendukung komunikasi dan pelaporan petugas di titik-titik krisis sehingga koordinasi bantuan dapat dilakukan lebih cepat.
Kapolda menegaskan seluruh jajaran akan terus bergerak memastikan masyarakat terdampak mendapatkan pertolongan.
“Kita akan terus bergerak untuk menolong korban bencana yang terjadi di Kabupaten Manggarai maupun Manggarai Timur dan wilayah lainnya,” tutupnya.

