Kanal Publikasi Kilas Nusantara
Best Viral Premium Blogger Templates

Advertisement

mediakpkn
September 06, 2026, 08.29 WIB
Last Updated 2026-09-07T04:30:44Z
BandungberitabmkgfenomenaJawa Baratperistiwasuara dentuman

Keterangan BMKG Terkait Suara Dentuman Misterius Gegerkan Warga Bandung Raya

Advertisement
ilustrasi: suara dentuman

Bandung - Fenomena suara dentuman yang terdengar berulang dari Jum'at malam hingga Sabtu (5/9) dinihari di wilayah Bandung Raya dan sekitarnya, masih terus dikaji secara mendalam oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

BMKG melalui Stasiun Geofisika Bandung, Jawa Barat memastikan, bukan disebabkan oleh aktivitas gempa bumi maupun fenomena cuaca lokal.

Kepala Stasiun Geofisika Bandung, Suaidi Ahadi menyampaikan, adanya laporan masyarakat terkait suara dentuman berulang, BMKG merespon cepat laporan tersebut serta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap data pemantauan kegempaan, aktivitas petir, kondisi cuaca, hingga magnet bumi.

"Hasil analisis data pemantauan kegempaan BMKG menunjukkan tidak adanya aktivitas seismik di wilayah Bandung dan sekitarnya pada rentang waktu tersebut, sehingga potensi gempa bumi sebagai pemicu suara dentuman dapat dipastikan nihil," kata Suaidi dalam Konferensi Pers daring, Sabtu (5/9).

Tidak hanya parameter kegempaan, BMKG juga memeriksa kondisi atmosfer serta aktivitas kelistrikan udara di wilayah Jawa Barat.

Hasilnya juga sama, pemantauan Lightning Detector mencatat aktivitas petir di Bandung Raya berada pada intensitas relatif rendah dan tidak signifikan, lanjut dia.

"Begitupun dengan kondisi cuaca secara umum di Bandung Raya, terpantau cerah dengan pergerakan angin bertiup konsisten dari arah Timur ke Barat, yang mengindikasikan tidak adanya fenomena cuaca ekstrem lokal pemicu dentuman," jelasnya.

Dipaparkan oleh Suaidi, meski ada peningkatan aktivitas petir di sekitar Gunung Anak Krakatau (GAK) terdeteksi lewat citra satelit, BMKG menilai kecil kemungkinan suara tersebut merambat hingga Bandung.

Dikarenakan, dengan pergerakan angin bertiup konsisten dari Timur ke Barat pada saat kejadian memperkecil peluang perambatan gelombang suara erupsi ke arah Bandung Raya.

Di sisi lain, instrumen BMKG mencatat beberapa anomali yang menjadi bahan analisis lanjutan.

Pemantauan di Pulau Sebesi merekam anomali seismogram pada pukul 23.08 WIB dan 23.32 WIB (16.08 UTC dan 16.32 UTC). Stasiun magnet bumi di Sukabumi (SKB) dan Serang (SRG) juga mencatat gangguan magnetik internal bumi pada periode 4 September pukul 23.00 WIB hingga 5 September pukul 02.00 WIB, tanpa ditemukannya aktivitas badai matahari.

“Namun, BMKG menekankan bahwa seluruh temuan anomali ini belum dapat secara langsung dikaitkan sebagai penyebab pasti suara dentuman tersebut,” ujarnya.

Untuk memastikan penyebab pasti fenomena ini, Stasiun Geofisika Bandung terus melanjutkan pemantauan secara intensif terhadap aktivitas kegempaan, petir, magnet bumi, dan atmosfer serta memperkuat koordinasi dengan instansi terkait.

BMKG mengimbau masyarakat di wilayah Bandung Raya untuk tetap tenang, tidak terpengaruh oleh isu spekulatif yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, serta selalu memperbarui informasi resmi melalui kanal komunikasi BMKG.

Viral Suara Dentuman Gegerkan Warga


Sebelumnya, Beredar di media sosial video suara dentuman yang direkam oleh sejumlah warga di beberapa wilayah. Dalam video viral tersebut, suara dentuman tersebut disebutkan terdengar hingga ke wilayah Bandung, Jawa Barat.

Warga Bandung dan sekitarnya dibuat geger oleh suara dentuman tersebut yang hingga kini masih belum diketahui asal-usulnya.

Suara misterius yang berlangsung kurun waktu pukul 23.30 hingga menjelang Subuh itu awalnya dikira berasal dari acara musik.

Namun, intensitasnya makin mengencang dan ubah pola seiring berjalannya waktu.

  • Pukul 23.50 WIB: Suara mulai terdengar bergema rendah mirip dentuman bas sound system (sound horeg).
  • Pukul 00.00 WIB: Getaran makin terasa nyata hingga membuat kaca rumah warga bergetar selama 5-6 detik.
  • Suara berubah menyerupai hantaman palu atau proses pemasangan paku bumi dari kejauhan.
  • Pukul 00.30 WIB: Suara kencang kembali berulang setelah sempat mereda singkat.
  • Pukul 02.30 WIB: Puncak dentuman keras meletus menyerupai dentuman meriam, hingga membangunkan warga yang sedang tertidur lelap.

Menjelang Subuh, suara perlahan mereda dan samar, tergantikan oleh aktivitas warga di pagi hari.