Kanal Publikasi Kilas Nusantara
Best Viral Premium Blogger Templates

Advertisement

mediakpkn
September 07, 2026, 10.02 WIB
Last Updated 2026-09-08T18:48:04Z
abu vulkanikBadan Geologibencanaerupsi gunung KrakatauinfoPVMBG

Episode Erupsi Menerus Gunung Anak Krakatau Dinyatakan Berakhir

Advertisement

Bandung - Setelah berlangsung selama 25 jam, episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau (GAK) dinyatakan berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.03 WIB.

Berdasarkan Press Release Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), terjadi 3 kali erupsi Strombolian terjadi setelah episode erupsi terus menerus berakhir.

"Kembalinya erupsi strombolian sebagai karakteristik erupsi Gunungapi Anak Krakatu. Saat ini, untuk sementara ini diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi terus menerus yang cukup panjang," kata Lana Saria, Kepala Badan Geologi, Senin (7/9).

Dikatakannya, erupsi menerus adalah aktivitas pengeluaran material gunung berapi dalam durasi waktu tertentu tanpa jeda.

Meskipun demikian, perkembangan dinamika vulkanisme Gunungapi Anak Krakatau masih terus dipantau dan dievaluasi.

Pemantauan secara visual, selama periode tanggal 6-7 September 2026 gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Cuaca cerah hingga mendung, angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara, dan barat laut. Suhu udara sekitar 26° – 31° C.

"Pengamatan visual dan CCTV menampilkan terjadinya letusan strombolian dengan warna kolom erupsi berwarna hitam dan tinggi kolom erupsi tidak teramati," lanjutnya.

Sedangkan pemantauan Instrumental selama periode tanggal 6-7 September 2026 terekam 3 kali gempa Erupsi, 9 kali gempa Hembusan, 93 kali gempa Frekuensi Rendah, 98 kali gempa Hybrid/Fase Banyak, 4 kali gempa Tremor Menerus, 1 kali gempa Vulkanik Dangkal, Energi aktivitas vulkanik yang dicerminkan dari nilai perataan amplitudo RSAM ( Real-time Seismic Amplitude Measurement ) mengalami peningkatan pada tanggal 5 September 2026 tetapi menurun kembali pada tanggal 6 September 2026.

Data tiltmeter Stasiun Tanjung menampilkan kecenderungan peningkatan (inlfasi) pada awal Agustus 2026, sedangkan stasiun tiltmeter Lava93 menampilkan pola mendatar sebagai indikasi konstan, tidak adanya peningkatan ataupun penurunan.

Kondisi tersebut membuat tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III (Siaga).

Lana Saria menyampaikan bahwa kemungkinan terjadinya letusan dalam beberapa periode ke depan masih tinggi.

"Kemungkinan terjadinya letusan dalam beberapa periode waktu selanjutnya masih tinggi. Ancaman bahaya erupsi berasal dari lontaran batu pijar disertai hujan abu lebat. Potensi ancaman bahaya lainnya berasal dari aliran lahar jika letusan terus menerus terjadi kembali," jelas Lana di Bandung.

Sejalan dengan status Siaga tersebut, Badan Geologi Kementerian ESDM mengimbau

  1. Masyarakat di sekitar G. Anak Krakatau dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak diperbolehkan masuk dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 3 km dari pusat aktivitas G. Anak Krakatau dan meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lahar, dan lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.
  2. Masyarakat yang terdampak abu vulkanik hasil erupsi Gunungapi Anak Krakatau direkomendasikan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker selama beraktivitas untuk menghindari gangguan pernafasan.
  3. Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang letusan Gunungapi Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami, serta dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan selalu mengikuti Arahan BPBD setempat.
  4. Untuk mengetahui informasi dapat menghubungi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi (022) 7272606 di Bandung (Provinsi Jawa Barat) atau Pos Pengamatan G. Krakatau (0254) 651449 atau 085846324506 di Pasauran (Provinsi Banten).

Masyarakat, pemerintah daerah, dan instansi terkait dapat memantau perkembangan aktivitas dan rekomendasi Gunungapi Anak Krakatau melalui aplikasi/website Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian ESDM melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas gunung api aktif di Indonesia, termasuk Gunung Anak Krakatau.

Pemantauan khusus terhadap Gunung Anak Krakatau dilakukan melalui dua pos pengamatan, yakni Pos Pengamatan Pasauran di Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, serta Pos Pengamatan Kalianda di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.