Advertisement
![]() |
| warga berbondong-bondong menuju sebuah sumur tua yang berada di kompleks masjid, untuk mengikuti ritual Mandi Grujug pada tengah malam untuk mandi grujug |
Indramayu - Suasana di Masjid Pusaka Baiturrahman tampak berbeda dari biasanya. Ratusan warga berdatangan ke Masjid yang ada di Jl. Dharma Ayu, RT.009/RW.003, Desa Dermayu, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat tersebut.
Di Masjid ini, warga berbondong-bondong menuju sebuah sumur tua yang berada di kompleks masjid, untuk mengikuti ritual Mandi Grujug pada tengah malam, Selasa (25/8/2026).
Mandi Grujug di sumur tua atau masyarakat setempat mengenalnya sebagai 'Sumur Pengantin', merupakan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tradisi tersebut digelar setiap 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriah, bertepatan dengan momentum peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Sumur Pengantin itu diyakini memiliki keberkahan. Airnya yang jernih tak pernah kering, bahkan saat kemarau panjang sekalipun, dianggap memiliki nilai sejarah dan spiritual.
Apalagi di momentum Maulid Nabi, sebagian warga menganggap sebagai waktu mustajab untuk berdoa
Pantauan di lokasi, sejak malam hari, warga mulai berdatangan. Mereka mengikuti prosesi secara bergantian agar dapat menggunakan air dari sumur.
Dengan menggunakan ember plastik ukuran kecil yang diikat dengan tali, warga secara bergantian menimba air dari sumur tersebut, kemudian mengguyurkannya ke seluruh tubuh, tanpa melepas pakaian yang dikenakannya.
Nang Sadewo, salah seorang Budayawan Kabupaten Indramayu mengatakan, Mandi Grujug merupakan salah satu kekayaan ritus masyarakat pesisir.
Tradisi tersebut memperlihatkan pertemuan antara budaya lokal dengan nilai-nilai Islam yang berkembang di tengah masyarakat.
Menurut dia, Mandi Grujug tidak hanya dilakukan pada peringatan Maulid Nabi. Tradisi serupa juga dapat ditemukan pada momentum tertentu, seperti hari besar Islam, Jumat, hingga Jumat Kliwon.
“Warga datang dengan membawa harapannya masing-masing. Ini merupakan naluri masyarakat. Mereka datang tanpa diundang karena percaya akan keberkahannya,” kata Sadewo.
Sementara itu, Fuad salah seorang pengurus DKM Pusaka Baiturrahman menjelaskan, pihak DKM tidak memberikan perlakuan istimewa terhadap sumur tua tersebut.
Menurutnya, keberkahan tidak semata-mata didapat dari air sumur itu.
Keberkahan sesungguhnya adalah hasil dari do'a yang dikabulkan Allah SWT saat Shalat di Masjid.
"Air tetap menjadi bagian dari ikhtiar. Do'a dan Ibadah tetap menjadi hal utama," terang Fuad.
Pada kesempatan yang sama, seorang warga yang sengaja datang untuk mandi grujug, berharap mendapat barokah usai mandi di Sumur Pengantin.
"Saya datang kesini sebenarnya hanya ingin mendapatkan ketenangan dan barokahnya aja sih," kata Vovon, warga dari Sindang, Kabupaten Indramayu.
Ia mengaku bersama temannya dan sudah dua kali datang ke Sumur tua yang ada di lingkungan Masjid Pusaka Baiturrahman ini. Yakni, di tahun 2026 sekarang dan tahun sebelumnya, 2025. (Pri)

